Ngentot Penjaga Toko yang Montok

Oleh bokep 2016 Pada 26 Agustus 2016 - 01:39

Ngentot Penjaga Toko yang Montok


Rumah kontrakan yang ku tempati terletak di daerah dekat pasar, walaupun jarak dari kontrakanku ke pasar memang agak jauh kalau berjalan kaki tetapi aku tidak risau. Karena aku pergi ke pasar hanya sesekali sewaktu membeli kebutuhan dapur. Setiap kali aku ke pasar, aku akan berjalan kaki saja dan aku jarang membeli banyak barang.

Di pasar itu, aku sering mengunjungi sebuah kios sedang yang menjual berbagai jenis keperluan dapur. Aku bukan saja dapat membeli semua barang-barang yang aku perlukan, malah aku juga berpeluang untuk berkenalan dengan seorang wanita yang aku taksir berumur lebih kurang 37 tahun. Namanya Anisah. 

Dia adalah isteri tuan pemilik kios itu. Aku memanggilnya Kak Ani. Dia memang baik dengan ku. Beberapa kali aku mendapat potongan harga dan barang gratis. Ketika dia mengetahui bahwasanya aku bekerja sebagai seorang guru, dia bertambah baik dengan ku. Kebetulan juga anak bungsunya bersekolah di sekolah tempat aku mengajar.

Kak Ani memang ramah, sesuai dengan kerjanya sebagai pemilik kios kebutuhan sehari-hari. Bertubuh agak ramping dan berpostur sekitar 160 cm tingginya. Dia memiliki mata yang jernih dan berkulit cerah. Rambut hitamnya ikal dan panjang melewati bahu. Kak Ani gemar berpakaian ketat terutama di bagian atas tubuhnya. 
Kadang-kadang aku merasa gemas apabila terlihat alur di celah dadanya. Beberapa kali Kak Ani "menangkap" aku yang sedang melihat ke dadanya tetapi dia tidak pernah memarahi ku. Malah dia tersenyum. Aku yang salah tingkah jadinya.


Di kios itu juga ada seorang pekerja wanita yang bernama Ina. Dia seorang ibu single parent dan telah lama bekerja di kios itu. Aku tidak pasti berapa umurnya. Mungkin dalam sekitaran 25 tahun ke atas. Aku tidak pernah menanyakan perkara itu pada Ina. Sejak kali pertama aku berbelanja di kios itu, aku mulai tertarik padanya.

Seidaknya, Ina memiliki potongan badan yang cukup menggiurkan dan wajah yang manis. Tingginya hanya sebatas hidung ku. Tubuhnya berisi tetapi tidak gemuk. Bokongnya lebar dan kelihatan padat sekali. Dadanya pun montok sekali. Aku sering memerhatikan Ina setiap kali aku datang ke kedai itu.

Setelah sebulan aku yang bernama Lukman dengan usia 26 bertugas di sekolah itu, aku sudah dapat menyesuaikan diri. Aku sudah dapat menjalani latihan tanpa merasa kikuk hasil bimbingan dari guru mentorku dan guru-guru lain. Aku juga sudah dapat menyesuaikan diri tinggal di dekat pasar itu. Aku sering pergi berjoging atau memancing ikan di sebuah kolam pemancingan yang terletak tidak jauh dari rumah ku.

Kisah pertualanganku bermula pada bulan kedua aku berada di tempat itu. Setelah mendapat kesan yang ramah pada bulan pertama, aku pun berkunjung ke kios Kak Ani untuk membeli keperluan dapur ku yang kebanyakannya sudah habis. Ketika itu aku tidak mengajar karena hari itu libur nasional. 

Seperti biasa, Ina membantu aku mencari dan memilih barang-barang yang aku perlukan. Sempat juga aku melirik ke arah dada Ina ketika dia tunduk mengambil barang.
"Besar banget!" Aku sempat mengusiknya.
"Apanya yang besar?" tanyanya agak keheranan.
"Itu, dadanya mbak" Aku memonyongkan bibirku, menunjuk ke arah dadanya.
"Ganjen!" Ina coba mencubit perutku tetapi aku mengelak. 
"Kenapa? Belum pernah ngeliat yang besar?"
"Belum." Aku berbohong.
"Bohong! Orang macam kamu mana mungkin tak pernah ngeliat!"
"Betul, saya gak pernah lihat kok"
"Yang tadi tuh apa?"
"Yang tadi gak keitung lah. Baru ngintip sebagian aja!"
"Terus, mau lihat semuanya Toh?"
"Kalau dikasih lihati, saya mau kok. Hehehe.."
"Ganjen juga kamu ya?"

Setelah selesai memilih barang-barang, aku membawanya ke counter bayar. Agak terkejut juga aku saat melihat jumlah barang-barang ku yang agak banyak. Aku sempat berniat untuk mengembalikan barang-barang yang aku rasakan bisa dibeli lain kali tetapi aku segan karena semuanya sudah berada di atas counter. Mau tak mau, aku terpaksa membayar untuk kesemuanya.

Mungkin setelah melihat aku bersusah payah mengangkat barang-barang itu, Kak Ani segera menegurku.

"Pak guru, gimana mau bawa barang-barang tu? Kan banyak banget tuh?"
"Pikul sendiri saja lah, kak. Mau bagaimana lagi?"
"Pak guru, tunggu bentar, ok? Nanti kakak tolong antar pak guru pulang"
"Eh, tak usah lah, kak. Menyusahkan saja"
"Tak apa... Kakak sekalian mau jemput anak kakak dari sekolahan. Dia kan ikut latihan olahraga? Kkak hantar dulu pak guru. Habis itu pergi jemput dia."
"Kalau gitu, ok lah."

Aku menunggu lebih kurang 15 minit sebelum Kak Ani mengajak aku ke mobil Pajeronya. Aku meletakkan barang-barang ku di tempat bagasi dan kemudian duduk di sebelah Kak Ani. Ada perasaan bangga juga karena dapat naik mobil macam itu. Mobil Kak Ani pun meluncur menuju ke jalan utama.

"Pak guru tinggal dimana?" tanya Kak Ani.
"Rumah kontrakan Kahuripan yang di atas bukit tu. Kakak lewat jalan belakang pasar aja."
"Bagus gak tempatnya, pak guru? Setahu kakak, tempat tu penuh dengan macam-macam jenis orang. Perempuan kelab malam banyak yang tinggal di tempat itu."
"Mereka tinggal di sebelah belakang. Rumah saya yang dekat dengan jalan raya. Saya ini gak seberapa gajinya, kak. Mana lah mampu buat sewa tempat yang mewah dikit. Tempat itu aja yang saya mampu."
"Tak apa lah, pak guru. Tak lama lagi kan bapak diangkat jadi pengajar resmi iya toh?"
"Iya. Cuma tinggal 2 bulan. Tapi sekolahannya bagus kan kak?
"Bagus"
"Apalagi disini bisa cuci mata tiap hari."
"Ngelihatin cewek pasti yah!"
"Dikasih lihat ya dilihat dong kak. Hehehe"

Perbincangan kami bergeser hingga ke perkara yang agak peribadi. Pada mulanya aku merasa agak janggal juga tetapi melihat Kak Ani yang cuek, aku kemudian tidak lagi merasa begitu.

"Pak guru pernah gak pergi dengan perempuan-perempuan kelab malam itu?" 
"Maksudnya kak?
"Ya gitu, ikut mereka ke kelab malam. Lalu..."
"Lalu... apa?"
"Tidur dengan salah seorang dari mereka?"
"Oh... itu. Gak pernah kok, kak. Mana ada saya ada duit buat bayar dia.

Bermula dari situ Kak Ani banyak menanyai aku. Seperti sebelumnya, kebanyakan pertanyaan Kak Ani bersifat peribadi tetapi aku tidak sungkan menjawabnya. Biarlah. Terlebih aku menganggap semuanya sekadar hal sepele biasa.

"Anda punya pacar tidak, pak guru?" tanyanya lagi.
"Dulu ada, masa awal kuliah. Sekarang udah gak ada."
"Emang kenapa putusnya?"
"Gak cocok kak, jadi udahan"
"Pak guru pernah kelonin dia tidak? 
"Dengan dia sih belum tapi sebelum dengan dia, memang saya pernah tidur dengan perempuan." 
"Betulkah itu, pak guru?" 
"Betul. Waktu tu memang mikirnya perempuan melulu. Kami sama-sama suka, jadi puas melakukannya." 
"Lalu sekarang bagaimana?"
"Entahlah, kak. Saya belum kepikiran lagi, tapi kalau ada yang mau ke saya, ya saya embat"

Karena Kak Ani yang lebih banyak menanyaiku, aku mulai merasa tak enak. Kemudian aku memutuskan untuk bertanya apa saja yang terlintas di pikiran ku kepada dia.

"Kakak ini, banyak nanya banget. Kakak sendiri gimana?" 
"Apanya yang gimana?"
"Begini lohkak, Saya belum pernah ngelihat suami kakak."
"Suami kakak?" Kak Ani segera memotong kata-kata ku.
"Suami kakak jarang ada disini. Kios itu pun kakak seorang aja yang urusi" 
"Dia kemana, kak?"
"Sejak dia kawin lagi, dia jarang datengin kakak. Lagian, dia udah buka kios baru di kota isteri mudanya"
"Begitu rupanya. Kakak gak cemburu, suami kakak asyik dengan isteri mudanya?"
"Mulanya cemburu juga tapi sekarang udah nggak. Kakak pun sebenarnya udah gak ngurusin dia mau apa kek."
"Kenapa kok gitu?" 
"Dia kan udah punya bini muda. Kakak ni udah gak diperhatiin lagi. Maklumlah udah tua. Udah gak nikmat lagi mungkin."
"Yang tu saya gak bisa komen apa-apa. Itu urusan pribadi kakak dan suami. Tapi pada pandangan saya, kakak ni masih muda juga, masih menawan lagi. Saya heran juga kenapa suami kakak perlakukan kakak begitu."
"Entahlah, pak guru. Segala cara udah kakak usahakan tapi gak ada hasil. Kalau ada pun cuma sebentar. Habis itu dia balik lagi dengan sikapnya semula. Kakak udah gak sanggup lagi."

"Boleh saya tanya satu masalah pribadi, kak?
"Soal apaan sih?" 
"Kakak udah lama gak bareng dengan suami? 
"Tidur dengan dia?"

Aku mengangguk. Kak Ani terdiam sejenak sambil tangannya memegangi stir mobilnya. Aku menyimak seksama wajahnya yang jelita seperti tidak dimakan usia itu. Memang tidak sepadan dengan usianya.

"Kalau soal tidur di rumah kakak sih, memang setiap kali dia pulang ke rumah kakak kadang-kadang dia tidur di sofa ruang tamu. Tapi kalau menyentuh saya dan membuat hubungan suami-isteri memang udah lama enggak. Kakak udah tak ingat kapan kali terakhir dia sentuh kakak."
Aku terus memperhatikan wajah Kak Ani. Ada raut kecewa di wajahnya. Dahinya sesekali berkerut. Timbul rasa bersalahku kerana menanyai Kak Ani soal itu.

"Sorry, kak, saya tanyain soal itu tadi."
"Eh... gak apa kok. Kakak gak masalah. Harusnya kakak berterima kasih pada pak guru. "Emangnya kenapa?" Aku kebingungan.
"Udah lama sekali kakak pendam rasa kecewa kakak ini. Untungnya ada pak guru. Bisa curhatin isi hati kakak."
"Itulah gunanya teman, kak."

Kak Ani berpaling kepada ku lalu tersenyum manis. Kami terus mengobrol lagi dan tidak lama kemudian, kami tiba di luar rumah kontrakan ku. Sebelum meninggalkan rumah sewa ku, Kak Ani sempat bertanya sesuatu kepada ku.

"Pak guru, tunggu bentar ya! 
"Ada apa, kak?"
"Akhir pekan ini pak guru senggang gak?"
"Rasanya sih begitu, kak. Kenapa?" 
"Kakak mau pergi ke kota Y wikend ini. Saja mau shopping. Kakak udah lama gak pergi jalan-jalan. Pak guru bisa temenin kakak, gak?

Aku pura-pura berfikir sejenak walaupun sebenarnya aku memang ingin sekali menemaninya. Siapa yang bakal menolak ajakan dari wanita yang menawan seperti wanita di hadapan ku itu? Kak Ani menjadi tidak sabar karena aku begitu lama memberi jawaban.

"Ayolah, Pak guru bisakan temani belanja, ok? 
"O.K..no problem! Tapi cuman temani kakak belanja aja yah"
"Gitu dong, pak guru. Nanti kakak kasih tau pas kita mau pergi." 

Aku mengangguk tanda paham. Kak Ani kelihatan gembira. Setelah Kak Ani pergi, aku pun mengangkat barang-barang yang aku beli tadi masuk ke dalam rumah.
Pada waktu sore di hari yang sama, aku seperti biasanya duduk di depan pintu rumah kontrakan ku sambil membaca. Memang itu lah kebiasaan ku jika aku tidak pergi berjoging. Sore itu agak mendung menandakan hari akan hujan. Aku segera mengangkat pakaian yang ku jemur ke dalam rumah. Kemudian aku kembali membaca majalah kegemaran ku.

Sedang asyik membaca, tiba-tiba aku disapa oleh seseorang. Aku mendengar suara perempuan. Aku mengangkat muka ku dan menoleh pada sosok seorang perempuan yang sedang mendorong sepedanya ke arah ku. Dia tersenyum manis. Di belakangnya terpasang sebuah tas.

"Mbak Ina! mau apa ke sini?" Aku agak terkejut melihat kehadiran Ina di tempat ku.
"Ina emang suka lewat sini kok."
"Memangnya Ina tinggal dimana, lewat sini?" 
"Ina menyewa kontrakan di kampung bawah. Tadi Ina pergi ke rumah saudara Ina. Ina awalnya ingin numpang bermalam disana tapi dia tidak ada di rumahnya. Lalu lewat sini, Ina ngelihat Lukman duduk di depan"
"Mau kemana sekarang mbak?"; tanya ku lagi.
"Mau pulanglah, tapi Ina mau mampir sini dulu. Kawan-kawan Ina pergi ke kota Y pagi tadi. Ina cuma sendirian di rumah. Ina malas mau pulang duluan. Boleh Ina numpang sebentar?" 
"Silakan duduk"; Aku menjemput Ina duduk di atas bangku panjang yang terletak di tepi pintu. Ina sempat menolehkan kepalanya ke dalam rumah ku dari luar.
"O.K juga tempat tinggalnya Lukman ini. Tapi apa gak takut tinggal seorang diri dalam rumah? Cuma rumah ini aja di depan jalan ini , lainnya di belakang" 
"Tak ada yang mesti ditakutkan. Lagian juga dekat dengan rumah pemiliknya."

Belum juga lama kami berbincang, hujan mulai turun dengan lebat sekali disertai dengan angin yang kuat. Aku segera mengajak Ina masuk ke dalam rumah dan menutup pintu seta jendela. Bunyi hujan jatuh menimpa atap seng rumah kontrakan itu begitu keras sekali sehingga kami terpaksa mengobrol dengan suara yang keras juga.

Sambil menunggu hujan reda, kami kembali mengobrol. Sebelum itu, aku masukkan sepeda Ina ke dalam rumah khawatir akan dicuri orang. Banyak hal yang kami obrolkan hingga tidak terasa waktu berlalu. Aku sempat membuka jendela dan melihat ke luar rumah. Tidak ada tanda-tanda hujan akan reda karena masih lebat meski tidak lagi disertai angin yang kuat. Suasana juga sudah mulai gelap. Aku melirik jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul 6 malam. Perutku berbunyi menandakan ia perlu diisi segera.

"Mbak Ina, saya mau makan dulu nih. Ayolah kita sama-sama makan." Aku mengajak Ina.
"Eh, gak usah lah, Man. Ina bisa makan di rumah nanti."
"Gimana mau makan? Mau pulang juga belum tentu bisa. Kalau mau pulangpun gak akan saya bolehin." 
"Emang kenapa?"
"Lihat aja diluar. Hujan lebat. Sudah gelap gulita pula. Kalau terjadi apa-apa diluar, mbak juga yang susah. Sudahlah mbak biar bermalam disini saja. Besok pagi baru pulang"
"Bener gak papa gitu, Man?"
"Emangnya saya suka ngebohong.." 
"Ina takut ih.." Ina memandang ku sambil tersenyum manja. 
"Kalau pulang malam, takutnya ada apa-apa"
"Baiklah, baiklah"
"Sudahlah, Mbak Ina bermalam disini saja. Mbak jangan cemas. Saya mau siapin makanan dulu."

Aku bangun meninggalkan Ina menuju dapur. Ina juga bangun lalu mengikuti ku. Aku memanaskan kembali makanan yang telah aku masak pada siang tadi. Ina membantu aku menyajikan makanan. Setelah itu kami makan bersama. Aku agak bernafsu makan kerana makan ditemani pada malam itu. Sambil makan, kami mengobrol tetapi kami lebih banyak mengobrol tentang makanan.

Selesai makan, kami membereskan meja makan. Ina mencuci wadah di wastafel sementara aku membersihkan meja. Kemudian kami kembali duduk di ruang tamu. Ina kelihatan agak kikuk berada dalam kontrakan ku itu. Maklumlah rumah orang. Dia duduk di hadapan TV sambil menjelajahi timbunan majalah dan buku-buku cerita yang disusun di atas rak di bawah TV.

"Banyak juga koleksimu, Man. Boleh Ina pinjam kan?"
"Ambil aja. Saya udah baca semua. Eh, saya mandi dulu ya, Mbak. Duduk sini saja ya.. Baca buku yang mbak suka."

Aku meninggalkan Ina di situ, mengambil kain handuk dan bergegas ke kamar mandi. Aku tidak berniat untuk mandi lama-lama karena tubuh ku tidak terasa gerah. Sambil mandi, aku membasuh pakaian kotor ku. Lebih kurang 20 menit kemudian, aku selesai mandi dan berpakaian. Kemudian, aku pergi mendapatkan Ina di ruang tamu.

"Mbak Ina, gak mandi?"
"Bentar lagi" Jawabnya pendek sambil membaca sebuah buku.

Aku melihat judul buku yang sedang dibacanya. Buku itu berisikan koleksi cerita-cerita erotis. Aku tersenyum sendirian. Nampaknya Ina sedang khusyuk membaca. Dia menyandar pada dinding. Aku tidak berniat mau mengganggunya. Aku mengambil tas kerja ku dan mengeluarkan isinya. Persediaan untuk mengajar pada esok hari masih belum aku selesaikan. Aku mulai menyiapkannya termasuk alat-alat media mengajar. Sesekali aku melirik ke arah Ina yang kerap mengubah cara duduknya.

Setelan kerjaan mengajarku siap, aku memasak air di dapur karena aku ingin bikin kopi panas. Setelah air itu mendidih, aku menyediakan segelas kopi. Kemudian aku kembali ke ruang tamu untuk menonton TV. Aku menghidupkan TV dan duduk merentangkan kaki di depannya. Ina masih membaca. Tiba-tiba Ina bersuara.

"Ina mau mandi dulu." Katanya lalu berdiri
"Mbak bawa handuk?" tanyaku. 
"Bawa. Ina ada bawa pakaian juga. Tadi kan Ina mau bermalam di rumah saudara Ina itu." Jawab Ina sambil berlalu ke kamar mandi. 

Aku tersenyum sendirian. Aku yakin sekarang Ina sedang mengalami desakan berahi setelah membaca buku itu tadi. Hanya orang yang tidak normal saja yang tidak terusik nafsunya bila membaca cerita-cerita erotis seperti dalam kisah di buku itu. Apalagi Ina mungkin sudah lama tidak disentuh lelaki. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di antara kami pada malam itu tetapi aku pasti tidak akan menolak untuk melalui malam yang penuh kenikmatan dan kehangatan bersama dengan wanita yang menggiurkan itu.

Siaran berita di TV mengejutkan aku dari lamunan. Aku kembali perhatikan layar TV di hadapan ku. Seketika kemudian aku terdengar pintu kamar mandi dibuka. Ina pasti sudah selesai mandi. Aku menoleh ke belakang dan melihat Ina sedang berdiri sambil mengeringkan rambutnya. Dia mengenakan celana stretch selutut dan T-shirt putih yang agak kecil ukurannya sehingga dadanya kelihatan menonjol ke depan. Apabila bajunya terangkat ke atas sedikit, aku dapat melihat bentuk kelamin nya yang aduhaii, begitu tembem sekali. Aku menelan air liur kerana sangat bernafsu melihat pemandangan itu. Cepat-cepat aku mengalihkan pandangan ku ke arah TV kembali.

Ina beralih dari belakang dan duduk bersimpuh di sebelah ku. Aku tercium bau wangi dari tubuhnya. Dia masih mengeringkan rambutnya. Kemudian dia mengambil kembali buku yang dibacanya tadi dan membuka halamannya.

"Belum selesai baca toh?" tanyaku.
"Belum, tinggal dikit lagi."
"Bagus gak ceritanya?" 
"Lumayan, Emangnya Lukman doyan baca tulisan kaya gini yah?"
"Enggak juga sih. Kadang-kadang aja. Kalau pergi ke toko buku, saya memang suka beli 2 atau 3. Kalau mau, Mbak bawa saja yang mbak suka pulang ke rumah besok. Itu masih ada lagi di rak." 
"Nantilah Ina pilih. Ina baca yang ini habis dulu." Ina menyambung bacaannya dan aku kembali menonton. Belum pun lama duduk, Ina mengubah kedudukannya. Dia rebahan tengkurap sambil menyangga tubuhnya dengan siku tetapi tidak lama. Mungkin dia tidak begitu nyaman.

"Ina pinjam bantal boleh gak? Ina gak enak dengan lantai semen ni. Keras!"
"Ambil saja sendiri di kamar itu."

Share On Facebook
Share On Twitter

Kategori: cerita mesum,
Label: ngentot penjaga toko yang montok

Belum ada komentar